AWALI DENGAN SMILE

Semua yang baru ada di sini

Rabu, 14 November 2012

Terjebak Keharusan, Kebiasaan, dan Keterpaksaan


Setiap kali memulai pagi setelah dua tanggal lima berlalu, selalu ada kata bismillah untuk mengawalinya. Apa yang paling peting dari hidup ini kalau kita tidak menemukan kepuasan atas apa yang kita hadapi. Puas bukan hanya pada sebuah keberhasilan yang berbuah kebahagian nyata dan langsung. Siapa misalnya yang tak puas, dapat menyelesaikan tanggungjawab yang diebankan dengan baik. Siapa yang tak puas ketika keinginan-keinginan yang bagi sebagian orang sulit berhasil dicapai dengan sukses. Siapa yang tak puas jika keinginan untuk punya barang yang disukai tercapai. Namun dibalik kepuasan ada sebuah makna yang selalu terucap kalau manusia tidak pernah merasa puas. Lagi, lagi dan lagi.
            Puas bukan hanya sekedar hasil, namun puas merupakan proses. Keadaan apapun, kondisi apapun proses akan menentukan segalanya. Pagi ini kita mulai dengan puas bisa menghadapi masalah besar.
            Seandainya ada yang tiba-tiba bertanya pada dirimu, apa masalah besar yang kamu hadapi? Bagi sebagian orang akan berpikir dulu untuk menjawabanya karena begitu banyak masalah besar yang dihadapi. Namun bagi sebagaian orang lain akan menjawab masalah terbesar yang pernah dihadapi adalah menghadapi diri sendiri. Bagi yang berangapan diri seindirilah yang menjadi masalah  besar, rasanya akan setuju dengan cerita kecil pagi ini.
            Saya maaf menggunakan kata subjek ini, karena saya lebih mewakili apa cerita kita. Doa akan selalu dikabulkan Tuhan percayalah selama itu membawa kebaikan untuk kita. Awal tahun 2012 ini saya punya sebuah doa agar diberikan kesempatan untuk mencoba menjalin sebuah hubungan yang lebih serius dengan lawan jenis. Kata ibu saya, umur saya memang sudah tak apa mencoba hal ini. Kata ibu saya lagi Tuhan selalu sayang dengan orang yang menyelaraskan doa dan ikhtiarnya. Ajaib, belum cukup satu bulan akhirnya doa saya dengar.
            Bismillah saya memang selalu mendatangkan hasil, bagaimanapun dan entah apapun namanya entah kebetulan, entah ada kesempatan, entah memang disengaja, dan entahlah, yang pasti ini sudah diatur Tuhan. Hingga akhirnya pertemuan itu terjadi, lagi, lagi dan lagi.  Hingga akhirnya komunikasi itu terjaga dengan kata saling. Saling menanyakan kabar, saling menanyakan kesibukan, saling meminformasikan, saling berbagi cerita. Hingga akhirnya tak lengkap tak ada kabar dari mu, tak lengkap tak menanyakan kesibukan mu, tak lengkap tak saling menginformasikan, dan tak lingkap tak saling berbagi cerita.
            Peremuan itu hatinya mudah luluh, untuk ini mungkin lebih cocok untuk kategorinya untuk saya. Dan untuk beberapa perempuan yang setuju. Selalu mencoba menyakinkan diri, ini hanya hubungan biasa saja,  dengan prinsip jalani saja. Tapi hati tak bisa dibohongi. Munafik, itu bukan saya, kata tak lengkap mulai berubah menjadi keharus, lagi, lagi dan lagi. Itu yang saya rasakan.
            Saya harus tau kabar mu, saya harus tau kesibukan mu, saya harus tau informasi tentang mu, saya harus bercerita pada mu. Makin kesini, makin rumit, karena bagi saya hanya butuh beberapa waktu untuk menjadikan kata harus menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi kebutuhan. Dan pertama kali saya katakana kalau semua itu terjadi bukan tanpa alasan, bukan hanya keinginan, tapi hanya karena saya diberi celak untuk mengubah sebuah keharus menjadi kebutuhan.
            Siapa yang menolak diberikan kebaikan, saya tidak akan menolak. Kita lanjutkan, semakin kesini, semakin rumit, semakin banyak keharusan yang  menjadi kebiasaan. Bukan saya tidak dapat nasehat atau petuah, bahkan saya beberapa kali diingatkan, untuk mengurangi  kebiasaan baru ini. Tapi setiap ada nasehat, setiap itu pula saya lupa dengan nasehat itu. Baru ingatlah saya sekarang kalau logika itu akan dikalahkan oleh perasaan. Perasaan saya memang selalu menang ketika berperang melawan logika, itulah saya.
            Hari, minggu, bulan, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan, bulan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Lumayan lama makin tidak menentu. Bahkan tingkat keparahan mulai muncul. Inilah titik dimana penjemputan kesadaran mulai dibangkitkan, satu persatu logika itu mulai menang. Mulai melakukan perlawanan hebat, keras dan luar biasa. Keparahan mulai terasa menyakinkan saat kebutuhan menjadi dipaksakan.
            Dipaksakan arti katanya saja sudah akan kelihatan hasilnya, apalagi sampai benar-benar dilakukan. Tapi jujur waktu itu memang saya mulai melakukan paksaan, saya mulai meminta yang saat ini baru saya sadari itu bukan untuk saya. Usaha saya dengan bernada paksaan begitu menurut mu, membuat semuanya menjadi rumit, atau lebih tepatnya kacau.
            Logika saya mulai menjemput kesadaran yang ditutupi kata cinta. Satu hari, dua hari, seminggu, dua minggu, mulai muncul kata
saya salah berharap, kata hati saya. 
ya saya salah berharap, kata sahabat saya, 
saya salah berharap kata saudara saya, 
saya salah berharap kata ibu saya.
           
dan muncul
            untuk apa saling bertukar kabar, untuk apa saling menanyakan kesibukan, untuk apa saling memberikan informasi, untuk apa saling bercerita. Apa guna kalimat saling melengkapi, jika hanya mendatangkan sebuah kekhwatiran, kegelisahan, kecemasan, kegundahan, dan keraguan, dan tanpa ada kepastian. Memang jelas kepastian hanya milik_Nya, namun jika hubungan ini membuat atau menjadi penghalang kita “maaf saya gunakan kata kita”   untuk mencapai  bahagia. Tanpa harus meminta, tanpa harus menjelaskan kepada mu, setuju atau tidak, memang ini harus berakhir. dan seperti juga kata mu, cinta memang tak bisa dipaksakan.

            Begitulah, kenapa  cerita ini harus saya sampaikan, cukup saya tidak ada saya berikutnya lagi. Apa lagi saat kebutuhan menjadi dipaksakan. Kasihan, memang kasihan sekali, saya.
Maaf, Sedikit memang yang saya bagikan, tapi untuk yang satu ini bukan banyaknya yang penting tapi niatnya. Bagi saya berbagi merupakan obat. Dan bagian yang panjangnya telah saya bagi dengan Tuhan, dan saya mendapat obatnya.
             Potong-potongan lagian sengaja saya simpan, saya tutup rapat, dan saya kunci. Tahu kenapa karena itu bagian-bagian yang menyakitkan. Saya tak ingin membagi kesakitan itu, karena untuk mengobatinya kembali saya belum tentu siap.
            Sebelum cerita pagi ini saya tutup dengan Alhamdulillah, satu detik, dua detik, tiga menit, empat menit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, dua bulan, dan dua kali tanggal lima. Sekarang saya jauh lebih baik. Bagi saya soal cinta bukan hal yang main-main.
            Semoga bahagia yang saya cari secepatnya saya dapatkan, begitu juga dengan mu,..
Dbesni.

Senin, 12 November 2012

Tak Ada Kata Selain Mulai, Untuk Saat Ini

Tak begitu ingat ini kiriman dari siapa, namun bukan itu yang menjadi masalah. Coba baca mungkin ada sesuatu yang bisa dibawa pulang atau menjadi tanda aku akan selalu ada walaupun waktu memaksa kita untuk sampai pada saat seperti ini.


Jika suatu hari kamu ingin menangis, hubungi aku, aku tidak  janji aku dapat membuatmu tertawa, tapi aku dapat menangis dengan mu,jika suatu hari kamu ingin melarikan diri, jagan takut untuk hubungi aku, aku takkan menanti kamu berhenti, tapi aku akan berlari dengan mu, jika suatu hari ingan dengan seseorang hubungi aku, aku akan kesana untuk mu dan aku akan sangat diam, jika suaru hari kamu hubungi aku dan tak ada jawaban cepatlah datang untuk lihat aku, barangkali aku memerlukanmu, kamu adalah teman dan aku berharap itu benar, apapun yang terjadi aku akan ada untuk mu sampai akhir.

Memang terkesan berlebihan atau para temuda menyebut ini alay tidak apa. Bagian terpenting ini dari tulisan tulisan pendek ini, selalu berusaha ada dalam kondisi apapun. Tapi ini bukan semua keharus, namun sebuah keinginan. Doakan.



Kamis, 08 November 2012

resensi



Antara Dunia Imajinasi dan Dunia Nyata

Segala sesuatu diciptakan oleh Sang Pencipta dua kali,  ini pesan yang disampikan Donny Dhirgantoro lewat buku keduanya yang berjudul ‘2’. Sepintas jika melihat covernya, kita akan kebingungan,  tanda tanya besar akan muncul ada apa dengan angka 2?.  
2 merupakan buku ke dua Donny Dhirgantoro setelah 5 cm yang menjadi best seller nasional pada tahun 2005. Buku ini bukan hanya menceritakan kisah atlet bulutangkis ataupun kisah bulutangkis Indonesia. Tapi sebuah kisah inspiratif yang halaman demi halamannya menyajikan kalimat-kalimat  mujarap dan sangat bagus untuk kita resapi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku 5 cm Donny menyelipkan pesan melalui kalimat, “setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, didepan kening kamu, jangan menempel, Biarkan Dia, menggantung mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Pesan yang disampaikan lewat kisah persahabatan dan perjuangan mewujudkan mimpi dan cita-cita.

Jumat, 06 April 2012

Tersimpan di Album

Tersimpan di album PC, sudah berdebu, tapi masih layak untuk dipublis, perjalan di Medan 23-28 November 2010.



Kamis, 22 Desember 2011

Akhir pekan menyenangkan


Kamis, 21 Juli 2011

Motivasi Membangun Gerakan Baca

Hanya terlihat jejeran puisi dan kata-kata motivasi karangan sastrawan-sastrawan ternama ketika pertama kali menginjakkan kaki di halaman Rumah Puisi. Karangan para sastrawan itu adalah Taufiq Ismail, Ahmad Tohari dan Goenawan Mohamad. Puisi dan kata-kata motivasi itu sengaja ditulis pada pamflet yang tersusun rapi dari gerbang sampai ujung halaman. Rumah Puisi, begitu tempat itu diberi nama yang terletak di Nagari Angek Jl. Raya Padang Panjang- Bukittinggi Km 6 Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Beranjak masuk ke dalam Rumah Puisi yang digagas Taufiq Ismail ini, akan terlihat lima lemari besar yang memajang 7000 buku. Di antara ribuan buku ini, 50% nya buku sastra, 30% buku umum dan 20% buku agama. Ada buku karya lengkap Abdullah bin Abdullah Kadir Munsyi, karya Amin Sweeney, Ainun, dan Bacharuddin Jusuf Habibie. Menurut pengelola Rumah Puisi Muhammand Subhan, buku puisi terbaru Taufiq Ismail Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (4 jilid) termasuk buku yang sering dibaca dan dicari pengunjung.

Pencerahan di Tengah Konfilk

Pencerahan di Tengah Konfilk
Oleh: Diana Besni

Hening dan sesekali terdengar suara tembakan. Terlihat orang-orang berpakaian seragam loreng berlarian menenteng senjata. Tiga puluh pasang mata tertegun dan terkesima ketika menyaksikan film dokumenter The Black Road In Aceh garapan William Nessen, seorang sutradara asal Australia yang belakangan juga disebut sebagai wartawan. Pemutaran film ini merupakan rangkaian dari acara Salam Ulos Pelatihan Jurnalistik Damai yang bertemakan ‘Tak Hanya Menuliskan Tapi Juga Mendamaikan’, yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Usu Universitas Sumatera Utara (USU) sejak Selasa hingga Minggu (23-28/11) lalu.

Film berdurasi satu jam ini mengambil lokasi di Aceh. Secara garis besar, film ini berisi liputan perlawanan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak tahun 2001 sampai 2003 lalu. Film ini sempat dilarang penayangannya oleh Lembaga Sensor Film Indonesia (LSFI) pada tahun 2006, dikarenakan sarat dengan muatan kekerasan dan menggambarkan kekejaman oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap GAM. “Takut membangkitkan luka lama karena kondisi Aceh waktu itu sudah mulai kondusif,” tutur Hotli Simanjutak, wartawan European Pressphoto Agency (EPA), selaku pemateri malam itu, Selasa (23/11).

Selesai pemutaran film, Aula Utama Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional 1 kembali riuh. Setiap peserta diminta menyampaikan pendapat mengenai film yang baru saja ditonton. Satriani M dari LPM Identitas Universitas Hasanuddin Makasar, manganggap film tersebut terkesan memperlihatkan kekejaman TNI saja. “Tidak berimbang,” ungkapnya. Sementara itu M. Nazar Ahadi dari LPM Lensa Universitas Muhammadiyah Aceh, mempertanyakan kenapa harus menonton film dengan latar kampung halamannya pada pelatihan tersebut. Hotli pun angkat bicara. Menurutnya, selain membuat bulu kuduk merinding, film yang pernah digadang-gadangkan sebagai produk jurnalistik tersebut, pada hakikatnya bukanlah produk jurnalistik. “Film besutan orang bule Autrali ini belum menjunjung kode etik jurnalistik secara utuh,” terang Hotli.

Siang hari sebelum film ini diputar, Usman Kasang, redaktur Metro TV, menyampaikan materi bagaimana menuju jurnalisme damai. Sejak awal, ia menjelaskan konsep jurnalisme damai sebagai salah satu sikap kritis terhadap berbagai dampak dari aksi-aksi kekerasan pada masyarakat di daerah konflik. Kemudian mencoba menarik hikmah di balik konflik tersebut untuk kedamaian masyarakat. “Kedamaian itu adalah harapan setiap orang,” terangnya di depan peserta dari berbagai LPM di Indonesia, seperti LPM Manunggal di Universitas Diponegoro Semarang, LMP Idealita STAIN Batusangkar Sumatera Barat, LPM Suara Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, LPM Akademika Universitas Udayana Denpasar Bali, serta LPM lainnya di Sumatera.

Ia melanjutkan, jurnalisme damai mesti diterapkan dengan tujuan menguatkan identitas kelompok, mengurangi perpecahan pada masyarakat yang semakin terfragmentasi dan intoleran. Apa lagi pada daerah konflik, masyarakat langsung mengalami dampak yang luar biasa. “Dalam hal ini media punya kewajiban moral mendamaikan masyarakat,” ungkapnya.

Untuk mencapai keberhasilan dalam jurnalisme damai, seorang wartawan harus mampu berdiri di tengah-tengah konflik yang terjadi, menyajikan berita berimbang. Hal ini disampaikan Hanif Suranto, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). “Jurnalisme damai tidak menambah korban tapi mengayomi korban,” tegasnya.

Pelatihan ini juga menghadirkan, Luzi Diamanda, wartawan Gatra di Riau, dengan materinya teknik liputan dan menulis jurnalisme damai di wilayah konflik. Sedangkan Hendra Harap, dosen FISIP Ilmu Komunikasi USU, mengulas penerapan jurnalistik damai di pers kampus. “Di kampus pun juga terjadi konflik, bukan?” terangnya, Kamis (25/11) lalu.

Senin, 12 Juli 2010

Bola dan Kegilaanya


Demam piala dunia akhinya berhenti juga, senin (12/7). Malam yang membuat ku rela-rela menghubungi tetangga kos untuk meminjam Televisi karena televisi di kosan ku rusak. Perjuangan yang luar biasa untuk menyangsikan closing ceremony yang mengah. Malang tak dapat di tolak setelah berusaha untuk memperbaiki TV ternyata TV pun tak mau berkompromi dengan keaadan. Dan hal hasil di tukang yang memperbaiki meminta ku dan teman-teman di kos untuk "lembiru" lempar dan beli yang baru, benar-benar engak sopan tu si tukang.
Gara-gara TV engak juga bisa di perbaiki akhinya ku putuskan untuk meminjam TV tentangga. Dan dengan perjuang yang sangat menganaskan, memelas, dan merengek akhinya aku pun tak mendapatkan televisi untuk menonton Final piala dunia. Tidak tahu kenapa keinginan untuk menyaksikan bola malam itu sangat tinggi dan akhirnya aku dan kakak kos menyaksikan final piala dunia spanyol VS belanda lewat radio. Menyaksikan, kayaknya salah ya, mendengarkan baru pas. Malam terasa tahun 50an, gelap. Tapi tak apalah jagoan ku yang penting menang.

Minggu, 11 Juli 2010

BOCAH DAN BATU-BATUNYA


Rumah ku hari itu begitu menyenangkan, aku bangun saat matahari sudah mulai mengeluarkan pancaran putih dari arah timur ku lihat dari jendela kamar sebagian awan masih gelap seperti engan utuk bangung seolah-olah ia berkata pada ku “ tidur sajalah untuk apa kau bangung”, tapi dari luar kamar terdengar suara yang membuat mata ku langsung terbelangak, terikan ibu yang menyuruh ku untuk shalat dan mandi. Aku berupaya untuk membangkitkan badan ku dari tempat tidur reyot ku dan membentuk selimut kusam ku seperti segi empat dengan rapi lalu ku rapikan kasur ku yang semakin hari semakin menipis itu.

Sabtu, 12 Juni 2010

Kode Smiley Facebook Untuk Chating

2 Apr 2009

Sering chating dengan teman di facebook? pasti ada yang terasa kurang dibandingkan bila kita chating menggunakan yahoo messenger yang mempunyai banyak smiley (emoticon). Sebenarnya facebook juga mempunyai smiley yang cukup banyak hanya saja pengguna facebook banyak yang tidak tahu kode untuk menampilkan smiley tersebut. Mau tambah asyik ngobrol dengan teman di facebook silakan tambahkan kode-kode smiley facebook berikut :

happy :-) :) :] =)

robot :|]

curly lips :3

pacman :v

upset >:O >:-O >:o >:-o

confused o.O O.o

squint -_-

kiki ^_^

heart <3

kiss :-* :*

angel O:) O:-)

devil 3:) 3:-)

Shark (^^^)

unsure :/ :-/ :\ :-\

cry :'(

grumpy >:( >:-(

sunglasses 8-| 8| B-| B|

glasses 8-) 8) B-) B)

wink ;-) ;)

gasp :-O :O :-o :o

grin :-D :D =D

tongue :-P :P :-p :p =P

sad :-( :( :[ =(

Chris Putnam :putnam:

Kamis, 10 Juni 2010

Lorong Panjang

Terdengar suara ledakan yang memecahkan gendang telinga. Dahsyat! Tiba-tiba lorong panjang tengah terlihat semburan api yang begitu besar dan jalur lorong yang lainnya mengepul begitu cepat, asap hitam dan tebal membuat dada Ujang sesak.
“ Allahhu Akbar...”
“ Ujang lari kau pasti bisa!”, sayup-sayup Ujang mendengar suara itu.
***

Hari itu Ujang kembali bekerja ke pertambangan. Pagi sekali Ujang telah siap untuk kembali bergelut di pertambangan bersama teman-teman lainnya.
“ Miyah, jaga Yusuf, Uda pergi dulu,”
“ Ia Uda, hati-hati” dengan nada lemah Miyah meraih tangan Ujang dan meletakkan di dahinya.
Ketika kegiatan di tambang dimulai, sebagian orang masih menyelimuti tubuhnya, jam 6 pagi, semua pekerja sudah mulai memasuki lorong-lorong panjang itu, saat masuk ke dalamnya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berjalan agar sampai di ujung. Pagi yang dingin, Ujang menggali bersama teman-temannya Pak Agus, Ucok, dan Ayup. Nampak dari kejauhan di bagian lain, banyak kawan-kawan Ujang yang bernasib sama dengannya. Ujang menggali sekitar 100 meter dari mulut lubang.
Sebagian besar mata pencarian masyarakat desa Awaksato adalah sebagai penambang. Awaksato merupakan desa yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan batubaranya. Setiap hari ratusan ton batubara di keluarkan dari Awaksato, tak ada satu pun pemuda menolak ketika diajak menggali di lorong panjang itu. Desa yang kaya batubara tapi tak cukup untuk menyejahterakan masyarakat di sana. Anak-anak muda yang tulangnya masih kuat dan pikiran yang seharusnya diasah di bangku sekolah malah untuk mengayunkan alat-alat bor yang beratnya bukan kepalang.
Lorong panjang yang jalur mencapai belasan dan panjangnya mencapai ratusan. Setiap hari selalu ada aktifitas menggali di dalamnya, puluhan laki-laki perkasa bergelut dengan alat pengebor dan gas metan. Lorong semacam lubang yang panjangnya bukan main itu ada pemiliknya, orang-orang di sana menyebutnya dengan kuasa lorong. Ujang dan kawan-kawannya menggali di lubang Mak Datuk. Setiap hari cucuran keringat Ujang cuma dibalas dengan 5 helai uang sepuluh ribu.
Upah yang hanya pas untuk makan satu hari keluarga. Tapi Ujang rela bekerja di dalam lorong yang selalu membuat Miyah bergelinangan air mata ketika melihat suaminya pulang bekerja dengan tetesan keringat dan badan hitam berlumur dengan batu bara.
***
Saat petang tiba, Ujang menapakkan kaki di rumahnya. Tak begitu indah, gubuk kecil dengan beranda beralaskan tanah di depannya, tapi cukup untuk melepas lelah menyeka peluh yang saban hari tak tergantikan dengan uang yang pas-pasan. Nampak dari kejauhan Miyah tengah menggendong anak mereka yang baru berumur sekitar 2 tahun. Miyah seolah jijik melihat sosok yang datang itu, ia buang muka dan mengalihkan perhatiannya pada Yusuf.
“ Uda, lebih baik ke sawah saja, Miyah tak tahan melihat Uda harus keluar
masuk lorong gelap itu lagi.”
“ Miyah sudah berapa kali kita membicarakan hal ini, aku rasa hampir setiap hari, setiap aku pulang kerja, tak bisa kah kau lihat aku ini sedang letih”, tak terdengar balas dari cakap itu.
Ia bergegas mengambil air panas untuk mandi suami yang sudah hitam menyerupai batubara. Setahun setelah pernikahannya Ujang di PHK dari pekerjaannya sebagai tukang sapu di kantor camat tempat ia tinggal, Miyah tak pernah mengizinkan suaminya untuk bekerja di pertambangan. Tapi bagaimana lagi, satu-satunya tempat bekerja yang tak membutuhkan ijazah tinggi hanya itu, Miyah lebih rela suaminya menjadi petani dengan penghasilan tak jauh beda yang juga tak kan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi anak laki-laki di desa Awaksato menjadi penambang adalah suatu kebanggaan karena dianggap laki-laki perkasa, dan Ujang adalah salah satu orang yang menganut paham kampungan itu. Beda dengan Miyah, ia lebih suka jika suaminya menjadi petani, karena ia tak kan was-was memikirkan keselamatan suaminya bekerja di lubang yang panjangnya sampai ratusan dan sering meledak tanpa sebab yang pasti. Tapi rayuan Miyah tak mampu menggoyahkan pendirian bodoh suaminya, Miyah merasa mulutnya sudah berbuih-buih melarang suaminya bergelut lagi dengan tambang itu.
“ Apa lagi yang kau pikirkan Miyah”, Ujang melihat istrinya termenung.
“ Tak ada Uda..”
“ Kalau kau masih memikirkan tentang tambang, untuk saat ini aku tak bisa memberikan jawaban apa-apa”. Miyah memilih diam dan tak lagi menanggapi apa yang diucapkan suaminya.
Miyah pernah meminta pada Mak Datuk, untuk memecat suaminya tapi Mak Datuk tak pernah mendengarkan keluhannya. Miyah tak tahan melihat suaminya bekerja dalam lorong yang panjangnya sampai ratusan meter dan disanggah dengan kayu lapuk, alat pelindung yang tak pantas disebut sebagai alat pelindung, bila terjadi sesuatu pun tidak ada bagian dari lubang itu yang memberikan jaminan keselamatan.
Malam itu Miyah kelihatan sangat gelisah, sudah hampir jam 11 malam, matanya tak juga mau di tutup.

“ Uda, besok tak usah pergi menambang..” tak ada balasan dari raut wajah yang tak kunjung tidur itu.
***
Keadaan gelap dan nafas sesak, Miyah mencoba menyusuri lorong itu,
“Tidak…..”
Sesosok tubuh tinggi terlentang dan kulit yang sudah melepuh, berada di hadapan Miyah saat itu, satu kata pun tak dapat ia ucapkan. Ia ingin berteriak lebih keras tapi ia tak sanggup karena dadanya begitu sesak.
Sosok yang tak jauh dari ingatannya, membuat dada Miyah semakin sesak.
“Tidak…….!!”
***
Pagi sekali Ujang telah berangkat ke pertambangan, ia sengaja bangun lebih awal dan tidak membangunkan Miyah, karena ia yakin Miyah pasti merengek dan melarang dia untuk pergi menambang. Saat akan masuk ke dalam lubang Ujang memperhatikan keadaan lubang yang mungkin bisa membuatnya tak nyaman untuk bekerja, kayu penyanggah lubang yang sudah lapuk, lubang yang berair, lampu penerangan yang tak berfungsi dengan baik dan ventilasi udara yang tak memadai.
“ Apa yang kau lamunkan Jang? Apakah kau berubah pikiran untuk ke sawah dari pada berjuang di sini sebagai laki-laki perkasa”.
“ Tidak.. Cok, aku perhatikan apa yang dicelotehkan istriku memang benar..”
“ Apa..?”
“ Lubang ini memang tak memberikan jaminan keselamatan pada kita”
“ Sudah Jang, jangan terlalu kau pikirkan, kita di sini bersama Tuhan”
“ Ya…tidak..”
***
Miyah bergegas keluar dari gubuknya, berjalan tergesa-gesa. Tak ada satu hal pun di sepanjang perjalanan yang membuat langkah Miyah terhenti. Ia mengangkat tinggi rok kumal yang dikenakannya. Sapaan Mak Datuk si kuasa lorong pun tak membuyarkan langkahnya. Langkahnya semakin susah untuk dihentikan, saat ia teringat tubuh tinggi yang terlentang di hadapan matanya.
***

Ketika asyik melamun dan menggali terdengar suara ledakan yang memecahkan gendang telinga dahsyat dan tiba-tiba lorong tengah terlihat semburan api yang begitu besar dan jalur lorong yang lainnya mengepul begitu cepat asap hitam dan tebal membuat dada Ujang sesak.
“ Allahhu Akbar...”
“ Ujang lari! Kau pasti bisa”, sayup-sayup Ujang mendengar suara itu.
***

Seketika Pak Agus disambar api yang sangat besar. Ujang dan Ucok saat itu sedang posisi jongkok, mereka terlempar dengan sangat kuat.
“ Ya Allah apa ini ya Allah”
“ Ucok, Pak Agus, Ayup, kalian dimana...”
“ Oi.. Ada yang dengar suara ku...”
“ Oi..,,”
Badan Ujang terasa berat dan tangannya tak bisa digerakkan. Di atas badannya bertumpukan kayu penyanggah lubang dan runtuhan batubara. Matanya tak bisa melihat gelap dan nafasnya sesak.
“ Allahhu akbar...”
“ Ya Allah...,, dimana teman-temanku..”
Ia mencoba bangun, tapi kayu dan batubara yang ada di atas badannya tak sanggup ia hindarkan seorang diri. Kejadian begitu cepat seperti kilat, yang membuat semuanya berubah gelap, panas, dan sesak.
“ Ya Allah, tolonglah aku..”
“ Pak Agus....., kau dimana? “
“ Apa kau bisa mendengar suaraku?...”
Sekuat tenaga, ia mencoba mengerakkan badannya. walaupun susah, ia tetap mencoba menyingkirkan kayu penyanggah lubang dan batubara yang ada di atas badannya.
“ Eekk...,, eekk….”
“ Aah..,aahh……...”, dengan suara teputus-putus menahan kesakitan ia terus berusaha menyingkirkan kayu-kayu yang menimpa tubuhnya.
Ujang bangkit dan merusaha mencari teman-temannya, tapi keadaan dalam lorong sangat kacau ia sangat susah bergerak menyusuri lorong.
Ia bangkit dan berusaha meraba setiap langkah yang ia lalui, terasa tetesan asing mengalir dari lubang hidungnya. Ia mengujam dengan tangan kirinya.
“Prakk….”, tubuh kesakitannya jatuh.
Ujang mencoba untuk bangun, kembali meraba setiap langkah yang ia lalui, sesekali Ujang menginjak benda yang susah untuk ia tebak. Terlintas dibenak Ujang, itu adalah tubuh teman-temannya. Tetesan air mata dan rintisan kesakitan terus keluar dari mulut Ujang.
Sepuluh menit berselang, ada seberkas cahaya putih yang jaraknya hanya beberapa meter. Dengan mengingat Allah, ia berusaha mencapai cahaya itu, ia terus merangkak dengan tangan yang sangat sulit untuk digerakkan. Setelah mencapai cahaya, ternyata itu adalah mulut lubang. Sesampainya di mulut lubang, ia melihat banyak mayat yang bergelimpangan, ia menangis dan terus mengingat Allah, tak satu pun dari mayat itu yang dapat ia kenali.
“Ucok, Pak Agus, Ayup..” dengan suara rintihan.
Ia teringat suara yang menyuruhnya untuk berlari sesaat setelah ledakan itu. Ia memperhatikan di sekitar, nampak sosok wanita yang selalu berceloteh padanya, dengan tetesan air mata ia bersujud penuh syukur.
“ Allahu akbar!!”.

Selasa, 08 Juni 2010

Jurnalistik Online Menjadi Dilema

Oleh Diana besni

Tak biasa di pengungkiri keberadaan media sudah menjadi kebutuhan bagi semua khalayak. Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT) selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni hadirnya beragam media online. Dengan kehadiran web blog siapapun dapat menyajikan berbagai pemberitaan dan informasi yang dibutuhkan publik.

Junalistik online juga memberikan ruang besar bagi citizen journalism, karena pada konsepnya citizen journalism memberikan informasi yang diinginkan dan diperlukan untuk diketahui orang lain, menulis berita dan membuatnya di Web Blog. Walaupun tak semuanya blog menerapkan disiplin ilmu jurnalistik. Banyak Blog yang hanya berisikan seputar kehidupan pribadi dan kegiatan sehari-hari yang jauh dari konsep berita 5W + IH “what” apa, “who” siapa, “when” kapan, “where” dimana, dan “why” mengapa dan “how” bagaimana. Bahkan sama sekali tak mengadung informasi penting.

Lantas apa yang dimaksud dengan online? Online istilah bahasa dalam internet yang artinya sebuah informasi yang dapat diakses dimana saja selama ada jaringan internet. Oleh sebab itu jurnalisme online adalah perubahan baru dalam jurnalistik. Penyajian laporan jurnalistik dengan menggunakan teknologi internet disebut media online yang menyajikan informasi cepat dan mudah diakses dimana saja.

Tak bisa di pungkiri keberadaan media online yang dapat diakses kapan saja, yang beritanya di-update setiap saat, dan dibumbui dengan teks bergambar, video, dan suara. Hal ini menjadi dilema yang dihadapi sebagian besar media konvensional seperti pres kampus. dilema kalau Koran, majalah atau tabloid kurang diminati oleh pembaca. Faktanya banyak media online yang sukses menyajikan ragam berita.

Contohnya saja Media online detik.com dan kantor berita Nasional Antara yang mempunyai banyak pelanggan beritanya seperti Koran daerah harian singgalang. Seiring berjalannya waktu, media online mulai bermunculan seperti astaga.com, satunet.com, suratkabar.com, berpolitik.com, ok-zone.com. Dengan lahirnya media online maka media cetakpun tidak mau kalah, dengan dua penyajian media cetak dan media online seperti kompas.com, temporaktif.com, republika.com, pikiran-rakyat.com, klik-galamedia.com. dan masih banyak lagi. Itu adalah langkah baru berkembangnya teknologi yang telah melahirkan jurnalisme online.

Direktur Kompas Cyber Media (KCM) Ninok Leksono menyebutkan, kehadiran media online ini jelas telah mengubah paradigma baru pemberitaan, yakni event on the making. Maksudnya, berita yang muncul tidak disiarkan beberapa menit, jam, hari, atau minggu, tetapi begitu terjadi langsung di-upload (dimasukkan) ke dalam situs web media online. Itulah keunggulan media online yang serba cepat.

Menjamurnya jurnalisme online juga membuka sedikit ruang buat pres kampus untuk lebih bisa menjadi wartawan mahasiswa kearah yang lebih baik. Karena selama ini kebanyakan prolema yang dihadapi pers kampus adalah dibidang pendanan. Dengan hadirnya jurnalistik online wartawan mahasiswa dapat membuat atau mengubah media cetaknya menjadi media online. Karena dari segi pendanan akan lebih murah apalagi kalau mengunakan Web Blog dapat diakses dengan gratis. Walaupun pemberitaannya hanya seputaran kampus dan di-update sekali seminggu ataupun sekali dalam sebulan. Media online ini dapat dijadikan lahan oleh wartawan mahasiswa seperti kita untuk mengasah kemampuan jurnalistik.

Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses berita hanya tinggal meng-klik informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet. Untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul. Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu menjembatani jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya.

Di sisi lain, jurnalisme online juga memudahkan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.

Terlepas dari masalah editor semua lembaga pres, berjalan atau tidaknya tergantung kepada lembaga itu sendiri bagaimana lembaga itu mengatasi polemik yang terjadi dalam tubuhnya sendiri. Jurnalistik online adalah sebuah media yang menjadikan ketersedian jaringan internet, keterjangkauan dan keamanan sebagai prioritasnya. Hal ini menunjukan kalau media online hanya bisa diakses jika prioritas tadi tidak terabaikan. Tak perlu ada dilema ditubuh media cetak, karena keberadaan media cetak sampai sekarang masih dirasakan oleh publik, keterbatasan jaringan internet menjadi alasan publik untuk terus mengakses berita melalui media cetak seperti Koran.