AWALI DENGAN SMILE

Semua yang baru ada di sini

Kamis, 10 Juni 2010

Lorong Panjang

Terdengar suara ledakan yang memecahkan gendang telinga. Dahsyat! Tiba-tiba lorong panjang tengah terlihat semburan api yang begitu besar dan jalur lorong yang lainnya mengepul begitu cepat, asap hitam dan tebal membuat dada Ujang sesak.
“ Allahhu Akbar...”
“ Ujang lari kau pasti bisa!”, sayup-sayup Ujang mendengar suara itu.
***

Hari itu Ujang kembali bekerja ke pertambangan. Pagi sekali Ujang telah siap untuk kembali bergelut di pertambangan bersama teman-teman lainnya.
“ Miyah, jaga Yusuf, Uda pergi dulu,”
“ Ia Uda, hati-hati” dengan nada lemah Miyah meraih tangan Ujang dan meletakkan di dahinya.
Ketika kegiatan di tambang dimulai, sebagian orang masih menyelimuti tubuhnya, jam 6 pagi, semua pekerja sudah mulai memasuki lorong-lorong panjang itu, saat masuk ke dalamnya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berjalan agar sampai di ujung. Pagi yang dingin, Ujang menggali bersama teman-temannya Pak Agus, Ucok, dan Ayup. Nampak dari kejauhan di bagian lain, banyak kawan-kawan Ujang yang bernasib sama dengannya. Ujang menggali sekitar 100 meter dari mulut lubang.
Sebagian besar mata pencarian masyarakat desa Awaksato adalah sebagai penambang. Awaksato merupakan desa yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan batubaranya. Setiap hari ratusan ton batubara di keluarkan dari Awaksato, tak ada satu pun pemuda menolak ketika diajak menggali di lorong panjang itu. Desa yang kaya batubara tapi tak cukup untuk menyejahterakan masyarakat di sana. Anak-anak muda yang tulangnya masih kuat dan pikiran yang seharusnya diasah di bangku sekolah malah untuk mengayunkan alat-alat bor yang beratnya bukan kepalang.
Lorong panjang yang jalur mencapai belasan dan panjangnya mencapai ratusan. Setiap hari selalu ada aktifitas menggali di dalamnya, puluhan laki-laki perkasa bergelut dengan alat pengebor dan gas metan. Lorong semacam lubang yang panjangnya bukan main itu ada pemiliknya, orang-orang di sana menyebutnya dengan kuasa lorong. Ujang dan kawan-kawannya menggali di lubang Mak Datuk. Setiap hari cucuran keringat Ujang cuma dibalas dengan 5 helai uang sepuluh ribu.
Upah yang hanya pas untuk makan satu hari keluarga. Tapi Ujang rela bekerja di dalam lorong yang selalu membuat Miyah bergelinangan air mata ketika melihat suaminya pulang bekerja dengan tetesan keringat dan badan hitam berlumur dengan batu bara.
***
Saat petang tiba, Ujang menapakkan kaki di rumahnya. Tak begitu indah, gubuk kecil dengan beranda beralaskan tanah di depannya, tapi cukup untuk melepas lelah menyeka peluh yang saban hari tak tergantikan dengan uang yang pas-pasan. Nampak dari kejauhan Miyah tengah menggendong anak mereka yang baru berumur sekitar 2 tahun. Miyah seolah jijik melihat sosok yang datang itu, ia buang muka dan mengalihkan perhatiannya pada Yusuf.
“ Uda, lebih baik ke sawah saja, Miyah tak tahan melihat Uda harus keluar
masuk lorong gelap itu lagi.”
“ Miyah sudah berapa kali kita membicarakan hal ini, aku rasa hampir setiap hari, setiap aku pulang kerja, tak bisa kah kau lihat aku ini sedang letih”, tak terdengar balas dari cakap itu.
Ia bergegas mengambil air panas untuk mandi suami yang sudah hitam menyerupai batubara. Setahun setelah pernikahannya Ujang di PHK dari pekerjaannya sebagai tukang sapu di kantor camat tempat ia tinggal, Miyah tak pernah mengizinkan suaminya untuk bekerja di pertambangan. Tapi bagaimana lagi, satu-satunya tempat bekerja yang tak membutuhkan ijazah tinggi hanya itu, Miyah lebih rela suaminya menjadi petani dengan penghasilan tak jauh beda yang juga tak kan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi anak laki-laki di desa Awaksato menjadi penambang adalah suatu kebanggaan karena dianggap laki-laki perkasa, dan Ujang adalah salah satu orang yang menganut paham kampungan itu. Beda dengan Miyah, ia lebih suka jika suaminya menjadi petani, karena ia tak kan was-was memikirkan keselamatan suaminya bekerja di lubang yang panjangnya sampai ratusan dan sering meledak tanpa sebab yang pasti. Tapi rayuan Miyah tak mampu menggoyahkan pendirian bodoh suaminya, Miyah merasa mulutnya sudah berbuih-buih melarang suaminya bergelut lagi dengan tambang itu.
“ Apa lagi yang kau pikirkan Miyah”, Ujang melihat istrinya termenung.
“ Tak ada Uda..”
“ Kalau kau masih memikirkan tentang tambang, untuk saat ini aku tak bisa memberikan jawaban apa-apa”. Miyah memilih diam dan tak lagi menanggapi apa yang diucapkan suaminya.
Miyah pernah meminta pada Mak Datuk, untuk memecat suaminya tapi Mak Datuk tak pernah mendengarkan keluhannya. Miyah tak tahan melihat suaminya bekerja dalam lorong yang panjangnya sampai ratusan meter dan disanggah dengan kayu lapuk, alat pelindung yang tak pantas disebut sebagai alat pelindung, bila terjadi sesuatu pun tidak ada bagian dari lubang itu yang memberikan jaminan keselamatan.
Malam itu Miyah kelihatan sangat gelisah, sudah hampir jam 11 malam, matanya tak juga mau di tutup.

“ Uda, besok tak usah pergi menambang..” tak ada balasan dari raut wajah yang tak kunjung tidur itu.
***
Keadaan gelap dan nafas sesak, Miyah mencoba menyusuri lorong itu,
“Tidak…..”
Sesosok tubuh tinggi terlentang dan kulit yang sudah melepuh, berada di hadapan Miyah saat itu, satu kata pun tak dapat ia ucapkan. Ia ingin berteriak lebih keras tapi ia tak sanggup karena dadanya begitu sesak.
Sosok yang tak jauh dari ingatannya, membuat dada Miyah semakin sesak.
“Tidak…….!!”
***
Pagi sekali Ujang telah berangkat ke pertambangan, ia sengaja bangun lebih awal dan tidak membangunkan Miyah, karena ia yakin Miyah pasti merengek dan melarang dia untuk pergi menambang. Saat akan masuk ke dalam lubang Ujang memperhatikan keadaan lubang yang mungkin bisa membuatnya tak nyaman untuk bekerja, kayu penyanggah lubang yang sudah lapuk, lubang yang berair, lampu penerangan yang tak berfungsi dengan baik dan ventilasi udara yang tak memadai.
“ Apa yang kau lamunkan Jang? Apakah kau berubah pikiran untuk ke sawah dari pada berjuang di sini sebagai laki-laki perkasa”.
“ Tidak.. Cok, aku perhatikan apa yang dicelotehkan istriku memang benar..”
“ Apa..?”
“ Lubang ini memang tak memberikan jaminan keselamatan pada kita”
“ Sudah Jang, jangan terlalu kau pikirkan, kita di sini bersama Tuhan”
“ Ya…tidak..”
***
Miyah bergegas keluar dari gubuknya, berjalan tergesa-gesa. Tak ada satu hal pun di sepanjang perjalanan yang membuat langkah Miyah terhenti. Ia mengangkat tinggi rok kumal yang dikenakannya. Sapaan Mak Datuk si kuasa lorong pun tak membuyarkan langkahnya. Langkahnya semakin susah untuk dihentikan, saat ia teringat tubuh tinggi yang terlentang di hadapan matanya.
***

Ketika asyik melamun dan menggali terdengar suara ledakan yang memecahkan gendang telinga dahsyat dan tiba-tiba lorong tengah terlihat semburan api yang begitu besar dan jalur lorong yang lainnya mengepul begitu cepat asap hitam dan tebal membuat dada Ujang sesak.
“ Allahhu Akbar...”
“ Ujang lari! Kau pasti bisa”, sayup-sayup Ujang mendengar suara itu.
***

Seketika Pak Agus disambar api yang sangat besar. Ujang dan Ucok saat itu sedang posisi jongkok, mereka terlempar dengan sangat kuat.
“ Ya Allah apa ini ya Allah”
“ Ucok, Pak Agus, Ayup, kalian dimana...”
“ Oi.. Ada yang dengar suara ku...”
“ Oi..,,”
Badan Ujang terasa berat dan tangannya tak bisa digerakkan. Di atas badannya bertumpukan kayu penyanggah lubang dan runtuhan batubara. Matanya tak bisa melihat gelap dan nafasnya sesak.
“ Allahhu akbar...”
“ Ya Allah...,, dimana teman-temanku..”
Ia mencoba bangun, tapi kayu dan batubara yang ada di atas badannya tak sanggup ia hindarkan seorang diri. Kejadian begitu cepat seperti kilat, yang membuat semuanya berubah gelap, panas, dan sesak.
“ Ya Allah, tolonglah aku..”
“ Pak Agus....., kau dimana? “
“ Apa kau bisa mendengar suaraku?...”
Sekuat tenaga, ia mencoba mengerakkan badannya. walaupun susah, ia tetap mencoba menyingkirkan kayu penyanggah lubang dan batubara yang ada di atas badannya.
“ Eekk...,, eekk….”
“ Aah..,aahh……...”, dengan suara teputus-putus menahan kesakitan ia terus berusaha menyingkirkan kayu-kayu yang menimpa tubuhnya.
Ujang bangkit dan merusaha mencari teman-temannya, tapi keadaan dalam lorong sangat kacau ia sangat susah bergerak menyusuri lorong.
Ia bangkit dan berusaha meraba setiap langkah yang ia lalui, terasa tetesan asing mengalir dari lubang hidungnya. Ia mengujam dengan tangan kirinya.
“Prakk….”, tubuh kesakitannya jatuh.
Ujang mencoba untuk bangun, kembali meraba setiap langkah yang ia lalui, sesekali Ujang menginjak benda yang susah untuk ia tebak. Terlintas dibenak Ujang, itu adalah tubuh teman-temannya. Tetesan air mata dan rintisan kesakitan terus keluar dari mulut Ujang.
Sepuluh menit berselang, ada seberkas cahaya putih yang jaraknya hanya beberapa meter. Dengan mengingat Allah, ia berusaha mencapai cahaya itu, ia terus merangkak dengan tangan yang sangat sulit untuk digerakkan. Setelah mencapai cahaya, ternyata itu adalah mulut lubang. Sesampainya di mulut lubang, ia melihat banyak mayat yang bergelimpangan, ia menangis dan terus mengingat Allah, tak satu pun dari mayat itu yang dapat ia kenali.
“Ucok, Pak Agus, Ayup..” dengan suara rintihan.
Ia teringat suara yang menyuruhnya untuk berlari sesaat setelah ledakan itu. Ia memperhatikan di sekitar, nampak sosok wanita yang selalu berceloteh padanya, dengan tetesan air mata ia bersujud penuh syukur.
“ Allahu akbar!!”.

0 komentar:

Posting Komentar