AWALI DENGAN SMILE

Semua yang baru ada di sini

Selasa, 08 Juni 2010

Jurnalistik Online Menjadi Dilema

Oleh Diana besni

Tak biasa di pengungkiri keberadaan media sudah menjadi kebutuhan bagi semua khalayak. Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT) selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni hadirnya beragam media online. Dengan kehadiran web blog siapapun dapat menyajikan berbagai pemberitaan dan informasi yang dibutuhkan publik.

Junalistik online juga memberikan ruang besar bagi citizen journalism, karena pada konsepnya citizen journalism memberikan informasi yang diinginkan dan diperlukan untuk diketahui orang lain, menulis berita dan membuatnya di Web Blog. Walaupun tak semuanya blog menerapkan disiplin ilmu jurnalistik. Banyak Blog yang hanya berisikan seputar kehidupan pribadi dan kegiatan sehari-hari yang jauh dari konsep berita 5W + IH “what” apa, “who” siapa, “when” kapan, “where” dimana, dan “why” mengapa dan “how” bagaimana. Bahkan sama sekali tak mengadung informasi penting.

Lantas apa yang dimaksud dengan online? Online istilah bahasa dalam internet yang artinya sebuah informasi yang dapat diakses dimana saja selama ada jaringan internet. Oleh sebab itu jurnalisme online adalah perubahan baru dalam jurnalistik. Penyajian laporan jurnalistik dengan menggunakan teknologi internet disebut media online yang menyajikan informasi cepat dan mudah diakses dimana saja.

Tak bisa di pungkiri keberadaan media online yang dapat diakses kapan saja, yang beritanya di-update setiap saat, dan dibumbui dengan teks bergambar, video, dan suara. Hal ini menjadi dilema yang dihadapi sebagian besar media konvensional seperti pres kampus. dilema kalau Koran, majalah atau tabloid kurang diminati oleh pembaca. Faktanya banyak media online yang sukses menyajikan ragam berita.

Contohnya saja Media online detik.com dan kantor berita Nasional Antara yang mempunyai banyak pelanggan beritanya seperti Koran daerah harian singgalang. Seiring berjalannya waktu, media online mulai bermunculan seperti astaga.com, satunet.com, suratkabar.com, berpolitik.com, ok-zone.com. Dengan lahirnya media online maka media cetakpun tidak mau kalah, dengan dua penyajian media cetak dan media online seperti kompas.com, temporaktif.com, republika.com, pikiran-rakyat.com, klik-galamedia.com. dan masih banyak lagi. Itu adalah langkah baru berkembangnya teknologi yang telah melahirkan jurnalisme online.

Direktur Kompas Cyber Media (KCM) Ninok Leksono menyebutkan, kehadiran media online ini jelas telah mengubah paradigma baru pemberitaan, yakni event on the making. Maksudnya, berita yang muncul tidak disiarkan beberapa menit, jam, hari, atau minggu, tetapi begitu terjadi langsung di-upload (dimasukkan) ke dalam situs web media online. Itulah keunggulan media online yang serba cepat.

Menjamurnya jurnalisme online juga membuka sedikit ruang buat pres kampus untuk lebih bisa menjadi wartawan mahasiswa kearah yang lebih baik. Karena selama ini kebanyakan prolema yang dihadapi pers kampus adalah dibidang pendanan. Dengan hadirnya jurnalistik online wartawan mahasiswa dapat membuat atau mengubah media cetaknya menjadi media online. Karena dari segi pendanan akan lebih murah apalagi kalau mengunakan Web Blog dapat diakses dengan gratis. Walaupun pemberitaannya hanya seputaran kampus dan di-update sekali seminggu ataupun sekali dalam sebulan. Media online ini dapat dijadikan lahan oleh wartawan mahasiswa seperti kita untuk mengasah kemampuan jurnalistik.

Fenomena jurnalisme online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses berita hanya tinggal meng-klik informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet. Untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul. Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu menjembatani jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya.

Di sisi lain, jurnalisme online juga memudahkan wartawan untuk terus-menerus meng-up date informasi yang mereka tampilkan seiring dengan temuan-temuan baru di lapangan. Dalam konteks ini, konsekuensi lanjutnya adalah berkurangnya fungsi editor dari sebuah lembaga pers karena wartawan relatif mempunyai kebebasan untuk segera meng-up load informasi baru tanpa terkendala lagi oleh mekanisme kerja lembaga pers konvensional yang relatif panjang.

Terlepas dari masalah editor semua lembaga pres, berjalan atau tidaknya tergantung kepada lembaga itu sendiri bagaimana lembaga itu mengatasi polemik yang terjadi dalam tubuhnya sendiri. Jurnalistik online adalah sebuah media yang menjadikan ketersedian jaringan internet, keterjangkauan dan keamanan sebagai prioritasnya. Hal ini menunjukan kalau media online hanya bisa diakses jika prioritas tadi tidak terabaikan. Tak perlu ada dilema ditubuh media cetak, karena keberadaan media cetak sampai sekarang masih dirasakan oleh publik, keterbatasan jaringan internet menjadi alasan publik untuk terus mengakses berita melalui media cetak seperti Koran.

0 komentar:

Posting Komentar