Hanya terlihat jejeran puisi dan kata-kata motivasi karangan sastrawan-sastrawan ternama ketika pertama kali menginjakkan kaki di halaman Rumah Puisi. Karangan para sastrawan itu adalah Taufiq Ismail, Ahmad Tohari dan Goenawan Mohamad. Puisi dan kata-kata motivasi itu sengaja ditulis pada pamflet yang tersusun rapi dari gerbang sampai ujung halaman. Rumah Puisi, begitu tempat itu diberi nama yang terletak di Nagari Angek Jl. Raya Padang Panjang- Bukittinggi Km 6 Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Beranjak masuk ke dalam Rumah Puisi yang digagas Taufiq Ismail ini, akan terlihat lima lemari besar yang memajang 7000 buku. Di antara ribuan buku ini, 50% nya buku sastra, 30% buku umum dan 20% buku agama. Ada buku karya lengkap Abdullah bin Abdullah Kadir Munsyi, karya Amin Sweeney, Ainun, dan Bacharuddin Jusuf Habibie. Menurut pengelola Rumah Puisi Muhammand Subhan, buku puisi terbaru Taufiq Ismail Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (4 jilid) termasuk buku yang sering dibaca dan dicari pengunjung.
Di setiap ruangan dan dinding Rumah Puisi juga dipajang puisi-puisi Taufiq Ismail dan Sastrawan lainnya. Nampak juga beberapa kata-kata motivasi seperti kalau ada uang sedikit, saya beli buku, kalau masih bersisa saya beli makan dan pakaian (Vincent Scarret). Di sebuah ruangan, terlihat sebuah data yang dipajang di dinding ruang diskusi Rumah Puisi. Data itu adalah buku sastra wajib baca di SMA 13 Negara. Data itu memperlihatkan SMA di Amerika Serikat mewajibkan 32 judul buku yang harus dibaca pada tahun 1987-1999, SMA di Belanda ada 30 judul buku pada tahun 1970-1973, SMA di Thailand Selatan ada lima judul pada tahun 1995-1991, AMS Hindia Belanda A Malang ada 15 judul buku pada tahun 1929-1930, Sedangkan SMA di Indonesia dari tahun 1943-2004 tak tercatat judul buku yang harus dibaca. Masih ada 10 negara lagi yang juga mewajibkan bacaan sastra seperti Singapura, Malaysia, Kanada, Jepang, dan beberapa negara lainya.
Menurut Subhan, penulis buku Rinai Kabuik Singgalang ini, data itu juga menjadi latar belakang didirikannya Rumah Puisi. “Rumah Puisi ingin membangun kembali gerakan mambaca di Indonesia,” ujar Subhan sore itu. Gerakan membaca ini dimulai dari sekolah-sekolah yang berada disekitar Rumah Puisi. Suhban mengatakan sekarang ada tiga sekolah yang tergabung dalam sanggar sastra. Sekolah-sekolah itu adalah MAN 1 Kota Baru, Pesantren AL-Israq, dan SMA 1 X Koto. Dalam sanggar sastra ini siswa diajak unuk membaca buku dengan rutin, menulis cerpen, puisi, novel dan kegiatan drama musikalisasi puisi.
Selain itu ada beberapa kegiatan lain yang biasa dilakukan Rumah Puisi seperti pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, kegiatan membaca dan berlatih menulis siswa, kegiatan apresiasi sastra Indonesia dan Minangkabau, akses buku-buku perpustakaan, mengundang sastrawan daerah lain untuk bermukim selama 15-30 hari untuk berinteraksi dengan guru dan siswa, dan juga antar antar sastrawan
Perharinya ada sekitar 10-15 orang yang berkunjung, namun pada akhir pekan jumlahnya akan lebih banyak. Bagi para pengunjung tidaklah harus merogoh saku atau membuat kartu anggota untuk masuk ke Rumah Puisi. Mereka hanya cukup dengan melapor kepada pengelola. “Para pengujung bebas memilih sendiri mana buku yang ingin mereka baca, tapi tidak boleh dibawa pulang, hanya dibaca disini atau bisa juga difotokopi,” tutur Subhan.
Salah satu pengunjung ketika itu, Meiriza Paramita mengaku kalau kata-kata mutiara yang dipajang di halaman dan dinding Rumah Puisi yang merupakan karya dari seluruh penulis dunia membuatnya termotivasi untuk terus menulis dan menggemari sastra. Mita begitu ia akrab dipangil sudah empat kali berkunjung, ia suka mencari buku-buku sasrta luar seperti karya Leo Tolstoy. Ia juga pernah membaca dokumentasi tsunami Aceh. “Walaupun namanya Rumah Puisi, buku yang disediakan tak hanya buku puisi,” ungkapnya. Ia berharap semoga semakin bertambah lengkap koleksi buku di Rumah Puisi.
Beda lagi dengan Febby Lestia Dwidaya, siswa MTNS Padang Panjang yang baru duduk di bangku kelas dua ini. Ia ingin sekali membuat sebuah novel. Sore itu ia berkunjung bersama 30 orang temannya. Febby mengatakan kalau ia sangat mengidolakan karya-karya Taufiq Ismail. Menurut Febby, gurunya di sekolah sering membacakan puisi-puisi Taufiq Ismail. Febby yang sekarang tengah belajar menggarap novel berharap banyak mendapat ilmu dari Rumah Puisi. “Suasananya nyaman, serta koleksi buku pun banyak,” ujar Febby. (Diana Besni)

0 komentar:
Posting Komentar