AWALI DENGAN SMILE

Semua yang baru ada di sini

Minggu, 11 Juli 2010

BOCAH DAN BATU-BATUNYA


Rumah ku hari itu begitu menyenangkan, aku bangun saat matahari sudah mulai mengeluarkan pancaran putih dari arah timur ku lihat dari jendela kamar sebagian awan masih gelap seperti engan utuk bangung seolah-olah ia berkata pada ku “ tidur sajalah untuk apa kau bangung”, tapi dari luar kamar terdengar suara yang membuat mata ku langsung terbelangak, terikan ibu yang menyuruh ku untuk shalat dan mandi. Aku berupaya untuk membangkitkan badan ku dari tempat tidur reyot ku dan membentuk selimut kusam ku seperti segi empat dengan rapi lalu ku rapikan kasur ku yang semakin hari semakin menipis itu.

Aku mulai melangkahkan kaki ku ke arah kamar mandi, ku perhatikan di sekitar ku tak ada lagi debu, tepian jendela yang biasanya di penuhi dengan jaring laba-laba yang bersusah payah di buat oleh raja laba-laba perkasa itu di sapu bersih oleh ibu ku. Kulihat lagi jam dinding yang ada di sebelah meja makan yang masih menunjukan jam setengah 6, aku merasa malu pada ibuku yang tak tahu jam berapakah ia bangung, hingga rumahku yang biasanya kumal itu sudah rapi dan bersih. Aku bergegas menuju kamar mandi, satu persatu-satu ku mulai mendayung air yang ada dalam bak mandi, tubuhku mengigil kedinginan saat air itu menimpa badanku, selesai mandi kulangsung merapikan badan dan mengarah kekiblat.
Kuperhatikan ibu mengaduk-aduk sayur di dapur yang baunya sampai kekamarku dan rasa laparpun mulai menghampiri. Aku bergegas memasang seragam sekolah, yang baru saja ku strika semalam. Dan tak lama ibu mengeluarka terikanya lagi “nak cepat nanti terlambat sekolahnya”. Aku bergegas pergi kemeja makan dan mulai menyantap masakan ibu yang tidak ada duanya. Begitulah kegiatanku setiap pagi semuanya di mulai dengan tergesa-gesa.
Tit, tit,tit,,....bunyi yang selalu aku dengar setiap pagi saat akan berangkan sekolah. “tunggu pak”, ucapan yang tak pernah lupa ku ucapkan setiap pagi pada Pak aboi, sopir angkot yang jarak rumahnya hanya sekitar 100 meter dari rumahku, aku berlari kedapur menghampiri ibu yang sedang asik memasak dan berpamitan untuk berangkat kesekolah. Pak aboi selalu memasang wajah masam saat menanti ku terlalu lama memasang sepatu.
“heh kamu selalu seperti ini, kapan sih kamu yang nunggu saya..?”,
“lain kali mungkin pak..”,
Aku tersenyum dan aku segera masuk ke angkot pak aboi dan duduk di barisan bangku nomor dua tempat favoritku, aku melihat jam yang masih jam 6.30, angkotpun mulai berjalan. Aku adalah satu-satunya penumpang setia pak aboi, yang setiap pagi selalu menjadi yang pertama menaiki angkotnya.
Jalan angkot yang rasanya lebih kencang jika aku berlari di sebelahnya membuat mata ku kembali mengantuk.
“eett.....tiba-tiba angkot pak aboi merem mendadak”.
“ada apa pak..”
“ heh bocah mata mu dimana...,dasar “.
Seorang anak kecil memegang sesuatu di tangannya berjalan menyemrangi jalan tanpa memperhatikan kiri dan kanan. Pikir ku kenapa bocah itu jam segini tak berseragaman sekolah.
Jarak 500 meter dari rumahku mulai lah satu persatu teman-teman yang senasip dengan ku harus bangun pagi dan meningalkan kasur mereka demi menuntut ilmu. Hmm.. aku menarik nafas panjang saat angkot berhenti di depan sebuah rumah yang begitu besar dan taman yang bergitu luas. Tit,tit,.... pak aboi terus membunyikan klatson mobilnya yang sudah agak engan jika di ajak untuk berpacu dengan waktu. Lama kami munggu tapi tak ada jawaban dari orang yang menghuni rumah yang menurutku sia-sia karna terlalu besar dan halamanya terlalu luas, padahalkan masih bisa di tanami sayuran seperti yang dilakukan ibu di sekitar halaman rumahku. Tak satu orang pun dari kami yang ada di angkot itu yang berkommentar pada pak aboi, aku memperhatikan disekitarku ada wajah-wajah tidak ikhlas yang dipaksa menunggu, aku menghela nafas panjang dan mengaruk kepalaku karena kesal menunggunya terlalu lama. tapi apalah yang dapat aku lakukan dan kawan-kawan yang duduk termenung di angkot yang sudah tak muda lagi itu karna orang yang kami tunggu adalah majikan pak aboi.
***
Aku menghela nafas lega karena telah sampai dipersimpangan jalan menuju sekolah ku. Dengan hati setengah tidak ikhlas aku memberikan uang 1300 rupiah pada pak Aboi. Perjalanan yang bisa di tempuh dalam waktu 15 menit jika menggunakan sepeda motor, ku tempuh dalam waktu 45 menit angkot yang umurnya tak jauh beda dengan ku dan teman-teman lain yang tiga bulan ini duduk di bangku kelas tiga SMA. Tapi apalah dayaku sepeda motortua yang ada di rumah bukanlah mikiku tapi sepeda motor kakak ku yang dipakainya untuk pergi bekerja.
Aku begitu senang saat melihat atap sekolahku dari pendakian yang kudaki setiap pagi dan yang membuat betisku seperti pemain bola. Aku melihat kawan-kawan ku berlarian seperti mereka di kejar pamongpraja saja dan aku pun terheran-heran dan tiba-tiba ada teman yang berteriak di belakang ku “ oi..oi telat-telat”. tanpa pikir panjang akupun bertindak seperti di kejar pamongpraja.
Memohon-memohon pada penjaga sekolah agar dibukakan pagar dan berjanji kalau itu hari terakhirku terlambat adalah satu rutinitas yang tak pernah lupa kukerjakan setiap hari. Rayuan ku pun berhasil mengoyahkan penjaga sekolah yang kumisnya tebal dan hitam itu. Semua orang sudah sibuk berbaris dan di atur oleh seorang guru olah raga ku. Aku selalu memilih tempat berbaris di tengah karena tempat yang aman untuk duduk sejenak melepaskan penat menanti kepala sekolah mengakhiri sepatah katanya yang bisa menghabiskan waktu lebih kurang satu jam.
Saat upacara selesai kantin adalah tempat sasaran utama, karna teriknya matahari di pagi itu membuat tengorokan ku kering, bedesak-desakan dengan teman-teman yang lain seperti orang mendapat pembagian semako gratis saja.
Pagi itu aku belajar sejarah dengan wali kelas, satu jam pertama aku harus mendengarkan siaran ulang dari wali kelas tentang sepatahkata yang di sampaikan kepala sekolah saat upacara tadi. Tak satupun kuperhatikan wajah teman-teman yang serius mendengarkanya, akupun mulai meletakkan tangan di atas meja dan diirigi dengan rebahan kepala.
“baik kita mulai pelajaran hari ini”,
suara itu terdengar samar-samar di telinga ku dan tiba-tiba pungungku di timpa benda aneh yang membuat mataku terbelenggak karena sakit.
“ heh..kamu tidur ya..”. Suara itu membuat kepalaku tegak sekitika.
“ tidak bu..”. Akupun ikut tertawa dengan teman-teman yang mencemeehkan tingkahku yang sangat memalukan pagi itu.
Sedikitpun tak ada yang ku mengerti tentang pelajaran apa yang di jelaskan ibu guru pagi itu pada kami teman sebangku berbisik padaku “..emang kita hidup di jaman belanda “, tanpa ku sadari kalau walikelas masih berdiri depan aku tertawa seperti orang baru menang lotre saja
“ hai apa yang kamu ketawakan”. akupun menunduk malu
“ tak ada bu”.
Aku sadar kalau semua mata di kelas saat itu tertuju pada ku, akupun terus menunduk malu.
Kejadian itu belalu begitu saja seiring dengan cerita wali kelasku tentang penjajahan belanda. Jam pertama dan kedua kulalui dengan sia-sia tak satupun pelajaran yang dapat kutangkap dengan baik. Saat bel tanda istirahat berbunyi perutkupun mulai berbunyi rasanya masakan ibu tadi pagi tidaklah cukup untukku. Aku bergegas menuju ke kantin yang berbatasan dengan dinding kelasku. Nasi goreng di campur mie dan di atasnya diberi telur adalah santapan yang sangat ku idolakan dengan teman-teman. Rasanya baru lima sendok aku memasukan nasi itu kemulut tapi kulihat tak adalagi yang tertingal dipiringku, sungguh aku merasa kalau seperti ini ibu kantin sekolah itu akan cepat kaya karna nasi goreng yang menurutku hanya lima sendok itu di ganti dengan uang 3500 rupiah.
Bel tanda masuk jam ketiga dan kempat pelajaran hari itu rasanya begitu cepat berbunyi lagi belum habis rasanya letih ini pada jam pertama sekarang sudah masuk lagi kejam kempat. Dengan langakah berat aku ayunkan kaki ku dari kantin yang hanya berbatasan dinding dengan kelas ku. Dengan perasaan kurang ikhlas aku mengikuti pelarajan dengan mata yang tak wajar lagi kedimnya. Perut setengah kenyang dan di tambah dengan angin yang berasal dari benda berputar yang tergantung di tengah kelasku membuat kepalaku semakin menunduk. Dan suasana siang dan jam-jam yang sangat mendukung untuk merebahkan diri dan memejamkan mata sejenak. Aku menoleh kesamping dan melihat teman sebangku ku begitu cepatnya mencatat apa yang di sampaikan ibu guru bahkan kuperhatikan tak satu katapun yang lupa ia catat dari apa yang di sampaikan ibu guru. Aku berusaha untuk tidak memejamkan mata ini, aku pikir lebih baik ku pergi mencuci mungka ini kelur, aku melangah kedepan kelas dam meminta izin pada guru, aku keluar dari kelas itu dan beharap setan-setan yang membuat mataku mengantuk tingal di luar kelas.
Aku menuju mushala yang jaraknya lumayan jauh dari kelas, satu persatu aku mencoba memutar kran air tempat berwuduk yang berada persis di samping musala tapi tak satupun kran yang mengelurkan air. Aku menoleh kedalam mushala dan belum ada yang sholat karna jam masih menunjuka jam 11.30. Dengan hati berat karena tak berhasil meninggalkan setan menmgantuk di luar kelas gara-gara tak ada kran yang bisa hidup pikirku mungkin sekolah belum bayar air, ku melangkahkan kaki ku untuk kembali kekelas dan berniat mengikuti pelajaran dengan baik.
Sesampaiku di kelas aku melihat pemandangan yang semakin membuat mataku lelah, di pojok bagian belakang salah satu teman laki-laki di kelasku dengan santainya melipat tangan dengan rapi dan diperkuat dengan kepala di atasnya. Aku kembali duduk dan menegakan punggung ku ini, baru beberapa menit aku duduk tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi bergegas ku mengangkan tangan kawan sebelah ku “ bel apakah..”, lalu masuklah orang yang tak asing lagi wajahnya bagi kami kedalam kekalas wakil kepala sekolah, yang biasanya memberikan pengumuman-pengumuman mendadak.
“Ada apa lagi”, aku mendengar kawan-kawan di kelas meributkan kedatangan wakil kepala sekolah itu, tapi aku hanya diam dan berfikir kalau itu tidaklah penting.
Ibu wakil kepala sekolah mulai berbicara dengan susunan kata-kata yang membuat semua orang penasaran. Tiba-tiba semua teman ku berteriak “hore-hore”, entah apa yang kupikirkan satu katapun tak dapat kutangkap dengan baik, dengan nada yang keras mencoba mengalahkan suara 37 teman-teman ku yang lainya, aku berusaha menanyakan kembali apa yang di sampaikan barusan tapi terikan ku sia-sia tak ada yang mendengar, semua orang sibuk mengemasi buku dan tas mereka, dengan wajah penuh kebinggungan aku bertanya pada teman sebangku ku yang tak ikut melakukan hal aneh seperti yang di lakukan teman-teman lain.
”Kamu kenapa tidak mengemasi buku-bukumu”. Aku betanya dengan kening yang mengerut.
“ aku mau masih belajar, ee malah ada rapat,”.
“apa ada rapat..”,
“ iya ada rapat “. Aku berteriak begitu senangya bergegas aku masukkan buku ku kedalam tas dan aku pun berlari meninggal teman sebangku ku dan keluar dari kelas yang membuat mengantuk itu.
***
Aku berjalan di antara kerumunan orang yang lalulalang dan sibuk dengan dagangnya masing-masing. Aku berusaha menembus satu persatu gerombalan ibu-ibu yang sedang memilih barang-barang mana yang cocok dengan saku mereka. “ o..begini kandisi pasar jam segini, tak tebayangkan oleh ku kalau ada ibu-ibu hamil yang lewat di antara geruman itu, bisa-bisa dia melahirkan disana”.
Satu jam lebih aku menggungu angkot pak Aboi di samping sebuah kadai yang isinya padat dengan cabe. Sungguh pak Aboi membuatku binggung kemana jam segini padahal sedang ramai kan lumayan. Kaki ku rasanya tak tahan lagi berdiri menanti kedantangan pak Aboi kuputusan saja untuk naik angkot yang lain.
Aku mengerutu dan berkata-kata sendiri, saat sopir angkot yang wajahnya sangat asing bagiku menyuruhku turut, padahali masih ada satu persimpangan lagi yang harus kutempuh agar sampai dirumah. aku mencoba merayu sopir itu dan berharap kasihan melihat wajah terania ini.
“ pak antarkan lah saya sampai kerumah, ini masih jauh pak”
“ tidak bisa nak, saya buru-buru..”
“tapi pak..”
“sudah lah turut saja disini, kamu kan bisa jalan sidikit kesana”
“ tapi jauh pak....”
dengan wajah yang semakin aneh
“kalau kamu tidak turun disini saya bawa kepasar lagi ni..”
“ee..jagan pak, nih uangnya”, dengan wajah kesal
“ loh kok cuma 1000”
“..aku berlari dan bilang ini belum sampai dirumah saya jadi bayarnya Cuma segitu..”
Belum 100 meter kuberjalan langakah ku terhenti melihat kejadian yang tak masuk dalam akal sehat ku. Aku berusaha mengusap mataku apakah itu benar atau tidak, kuusap terus sampai mata ku benar-benar pedih. Aku menoleh kebelang tapi tak ada satu orangpun bahkan jalan yang biasanya kulalui itu ramai dengan mobil dan sepeda motorpun mendadak sepi. Ini hal yang tak masuk di otok dan pikiran ku di mana aku melihat seorang anak kecil yang masih berumur sekitar 10 tahunan membawa benda yang di topang dengan gulungan kain kecil di kepalannya, semakin lama langakah bocoh itu semakin mendekatiku dan ternyata bocah itu adalah bocah yang tadi pagi hampir di tamrak pak Aboi. Pikirku apakah benar yang di bawanya itu adalah batu, yang di di bawanya dengan kerenjang yang di anyaman dari rotan. Di dalam keranjang rotan itu terdapat sekitar 10 pecahaan batu batu yang kurasa beratnya lebih dari 15 kg.
Bocah itu bertubuh hitam dan di jalan aspal yang sepanas itu ia tidak menguanakan alas kaki tak terpikir oleh ku, aku saja yang memakai sepatu setebal ini masih merasaka hawa panas dari aspal sedangkan dia sama seklali tidak memakai alas kaki. Ia meletakkan bantu yang di bawanya di penggir aspal itu, dan ia kembali ketempat dimana ia muncul pertama kali tadi. Berulang kali kulihan dia memlakukannya, Aku memlambatkan langkahku dan aku memberanikan diri dari mana bocah itu mendapatka batu. “astagfirullahalazim.......” seorang wanita yang sedang hamil tua duduk di tepi sebuah lobang memukul batu dengan martil yang sepantansnta diayutkan oleh seoarang laki-laki berotot besar. Pikirku kemana suami peremuan itu dan apakah bocah kecil tadi tidak sekolah.
Takut ketahuan mengintip aku langsung mempercepat kembali langakah ku. Sepanjang perlajanan pulang aku terbayang wajah perempaun itu dan anak perempaunya. Sesampai dirumah aku sholat dan lansung menghampiri ibu ku dan menceritaka apa yang ku lakukan disekolah sehari ini dan apa yang kulihat sepulangku sekolah tadi. Ibu menyuruhku merenungkan sendiri apa yang dapat ku ambail dari kejadian hari itu.
Seminggu aku sengaja mengelak pulang sekolah dengan angkot pak Aboi, entah kenapa aku sangat penasaran dengan bocah kecil itu, tubuhnya yang kecil harus menganakat batu yang beratnya hampir separuh badanya. Sering ku lihat wajahnya muram ketika ia melihat kawan-kawan yang sebaya dengannya lewat dengan seragam merah putih.
by : Diana besni (db*)

0 komentar:

Posting Komentar