AWALI DENGAN SMILE

Semua yang baru ada di sini

Kamis, 22 Desember 2011

Akhir pekan menyenangkan


Kamis, 21 Juli 2011

Motivasi Membangun Gerakan Baca

Hanya terlihat jejeran puisi dan kata-kata motivasi karangan sastrawan-sastrawan ternama ketika pertama kali menginjakkan kaki di halaman Rumah Puisi. Karangan para sastrawan itu adalah Taufiq Ismail, Ahmad Tohari dan Goenawan Mohamad. Puisi dan kata-kata motivasi itu sengaja ditulis pada pamflet yang tersusun rapi dari gerbang sampai ujung halaman. Rumah Puisi, begitu tempat itu diberi nama yang terletak di Nagari Angek Jl. Raya Padang Panjang- Bukittinggi Km 6 Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Beranjak masuk ke dalam Rumah Puisi yang digagas Taufiq Ismail ini, akan terlihat lima lemari besar yang memajang 7000 buku. Di antara ribuan buku ini, 50% nya buku sastra, 30% buku umum dan 20% buku agama. Ada buku karya lengkap Abdullah bin Abdullah Kadir Munsyi, karya Amin Sweeney, Ainun, dan Bacharuddin Jusuf Habibie. Menurut pengelola Rumah Puisi Muhammand Subhan, buku puisi terbaru Taufiq Ismail Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (4 jilid) termasuk buku yang sering dibaca dan dicari pengunjung.

Pencerahan di Tengah Konfilk

Pencerahan di Tengah Konfilk
Oleh: Diana Besni

Hening dan sesekali terdengar suara tembakan. Terlihat orang-orang berpakaian seragam loreng berlarian menenteng senjata. Tiga puluh pasang mata tertegun dan terkesima ketika menyaksikan film dokumenter The Black Road In Aceh garapan William Nessen, seorang sutradara asal Australia yang belakangan juga disebut sebagai wartawan. Pemutaran film ini merupakan rangkaian dari acara Salam Ulos Pelatihan Jurnalistik Damai yang bertemakan ‘Tak Hanya Menuliskan Tapi Juga Mendamaikan’, yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Usu Universitas Sumatera Utara (USU) sejak Selasa hingga Minggu (23-28/11) lalu.

Film berdurasi satu jam ini mengambil lokasi di Aceh. Secara garis besar, film ini berisi liputan perlawanan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak tahun 2001 sampai 2003 lalu. Film ini sempat dilarang penayangannya oleh Lembaga Sensor Film Indonesia (LSFI) pada tahun 2006, dikarenakan sarat dengan muatan kekerasan dan menggambarkan kekejaman oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap GAM. “Takut membangkitkan luka lama karena kondisi Aceh waktu itu sudah mulai kondusif,” tutur Hotli Simanjutak, wartawan European Pressphoto Agency (EPA), selaku pemateri malam itu, Selasa (23/11).

Selesai pemutaran film, Aula Utama Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional 1 kembali riuh. Setiap peserta diminta menyampaikan pendapat mengenai film yang baru saja ditonton. Satriani M dari LPM Identitas Universitas Hasanuddin Makasar, manganggap film tersebut terkesan memperlihatkan kekejaman TNI saja. “Tidak berimbang,” ungkapnya. Sementara itu M. Nazar Ahadi dari LPM Lensa Universitas Muhammadiyah Aceh, mempertanyakan kenapa harus menonton film dengan latar kampung halamannya pada pelatihan tersebut. Hotli pun angkat bicara. Menurutnya, selain membuat bulu kuduk merinding, film yang pernah digadang-gadangkan sebagai produk jurnalistik tersebut, pada hakikatnya bukanlah produk jurnalistik. “Film besutan orang bule Autrali ini belum menjunjung kode etik jurnalistik secara utuh,” terang Hotli.

Siang hari sebelum film ini diputar, Usman Kasang, redaktur Metro TV, menyampaikan materi bagaimana menuju jurnalisme damai. Sejak awal, ia menjelaskan konsep jurnalisme damai sebagai salah satu sikap kritis terhadap berbagai dampak dari aksi-aksi kekerasan pada masyarakat di daerah konflik. Kemudian mencoba menarik hikmah di balik konflik tersebut untuk kedamaian masyarakat. “Kedamaian itu adalah harapan setiap orang,” terangnya di depan peserta dari berbagai LPM di Indonesia, seperti LPM Manunggal di Universitas Diponegoro Semarang, LMP Idealita STAIN Batusangkar Sumatera Barat, LPM Suara Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, LPM Akademika Universitas Udayana Denpasar Bali, serta LPM lainnya di Sumatera.

Ia melanjutkan, jurnalisme damai mesti diterapkan dengan tujuan menguatkan identitas kelompok, mengurangi perpecahan pada masyarakat yang semakin terfragmentasi dan intoleran. Apa lagi pada daerah konflik, masyarakat langsung mengalami dampak yang luar biasa. “Dalam hal ini media punya kewajiban moral mendamaikan masyarakat,” ungkapnya.

Untuk mencapai keberhasilan dalam jurnalisme damai, seorang wartawan harus mampu berdiri di tengah-tengah konflik yang terjadi, menyajikan berita berimbang. Hal ini disampaikan Hanif Suranto, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). “Jurnalisme damai tidak menambah korban tapi mengayomi korban,” tegasnya.

Pelatihan ini juga menghadirkan, Luzi Diamanda, wartawan Gatra di Riau, dengan materinya teknik liputan dan menulis jurnalisme damai di wilayah konflik. Sedangkan Hendra Harap, dosen FISIP Ilmu Komunikasi USU, mengulas penerapan jurnalistik damai di pers kampus. “Di kampus pun juga terjadi konflik, bukan?” terangnya, Kamis (25/11) lalu.